Selasa, 31 Mei 2016

Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.

Matius 4:19 (TB) Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
Ini adalah panggilan kita untuk kita semua,  panggilan itu tidak berhenti di ikutlah Aku. Tetapi panggilan itu dilanjutkan dengan menjadi penjala manusia.  Banyak orang berhenti di panggilan ikutlah Aku. Sangat senang mengikut  Yesus,  berkat berlimpah dan lain sebagainya. Tidak, sekali lagi tidak, berhenti disitu panggilannNya masih koma bukan titik.
Menjadi penjala manusia seperti penjala ikan profesi murid murid sebelumya. Sangat mengerti. Ada resiko yang harus ditanggung. Bahkan kita siap mati akibat ombak yang besar yang menghantan kapal dan kerja keras. Ada kesabaran dan lain sebagainya. Apakah kita hanya menjadi pengikut Yesus ? ataukah kita sebagai penjala manusia juga?  Memang benar sebelum menjadi penjala manusia kita harus menjadi pengikut Yesus. Untuk apa? Tentunya untuk belajar, Petrus sendiri seorang penjala ikan yang handal dan berpengalaman,  tahu kapan ada ikan kapan tidak ada tetapi dia juga harus belajar kepada Yesus, menjadi penjala manusia, ada kesamaan prisip tetapi hakekatnya berbeda.  Prinsipnya sama tetapi hatinya sungguh berbeda. Apalagi kita yang bukan seorang penjala ikan mau menjadi penjala manusia.  Kita mesti belajar banyak tetapi semuanya pekerjaan masalah hati, apakah kita menaruh hati kita sepenuhnya atau hanya separuh hati. Akhirnya menjadi pengikut Yesus itu Bagus tetapi goalnya adalah menjadi penjala manusia. Jangan berhenti di mengikuti Yesus, jadilah penjala manusia,  memang resikonya banyak tetapi itu yang Yesus maksudkan. Apabila pekerjaan seberat apapun akan mempunyai hasil yang positif, sudah terlalu banyak bukti untuk itu.

Masa 12 tahun - 30 tahun

Apa yang Alkitab tulis tentang rentang usia tersebut?  Memang tidak ada penulis Injil baik Matius, Markus, Lukas dan Yohanes menuliskan tentang rentang usia ini secara gamblang, kenapa?  Mungkin ke-4 penulis Injil ini tidak merasa penting. Karena Alkitab berisi tentang bagaimana Allah menyelamatkan umat manusia melalui pengorbanan Yesus di atas Salib. Karena inti dari Alkitab itu sendiri adalah menunjukkan Kasih Allah yang begitu besar bagi manusia sampai2 Dia harus mengorbankan anaknya sendiri. Bahkan penulis Markus sengaja menulis 2 ayat khusus bagaimana proses penyaliban terjadi. Tanpa basa basi Markus langsung dengan Yohanes pembaptis dan apa apa saja yang Yesus perbuat serta ajaran ajarannya yang sangat bertolak belakang dengan guru2 yang telah ada sebelumnya. Di abad ke-5 Masehi memang ada penulis yang mengaku murid Yesus yang mencoba menuliskan bahwa semasa kecil Yesus pernah melakukan mujizat tetapi menurut saya adalah tidak benar sama sekali, karena semasa kecil 12-30 tahun Yesus dikenal sebagai manusia biasa, baru setelah Dia berumur 30 tahun barulah Yesus tampil setelah Yohanes dipenjarakan.  Dan cuma butuh waktu 3,5 tahun Yesus memanggil muridnya untuk pertama sekali, mengajar dan mempersiapkan misinya yang akan diteruskan oleh para pengikutnya. Waktu yang tidak terlalu lama bukan?  Jadi menurut saya Yesus direntang usia 12 - 30 tahun dimanfaatkan Yesus untuk belajar dengan sungguh-sungguh,  Yesus disebut guru karena selain dia punya pengikut, Dia juga sempat diberi kesempatan untuk membaca Kitab Taurat saat Dia berada di Bait Allah dari mana Dia mendapat hak itu kalau memang Yesus bukan seorang yang terpelajar, atau ahli dalam bidang agama , tentu saja waktu itu tetang PL , memang orang tua Yesus miskin, mungkin saja ayahNya Yusuf meninggal muda ,tetapi Dia seorang murid yang pintar, ingat waktu dia berumur 12 tahun Dia bersoal jawab dengan para ahli kitab saat Dia di Bait Allah,  dan orang2 pada kagum, mungkin saja Yesus mendapat beasiswa.  Yesus saja yang adalah Tuhan Dia juga seorang manusia. Kita sering sekali mengambil take tings for granted kita sering kurang maksimal dalam mempersiapkan kotbah, ini tantangan terutama untuk para pemberita Injil. Tidak ada alasan bagi kita untuk upgrade diri kita dengan banyak.belajar. Baik belajar secara formal juga non formal. Banyak para Jemaat yang bergantung pada buah pikiran dan pemberitaan kita. Memang jemaat harusnya juga mengupgrade dirinya, sekarang sangatlah mudah mendapatkan informasi. Jangan pula jemaat sudah mengetahui baru para pendeta berkotbah. Atau juga mempersiapkan kotbah dengan tidak bertanggung jawab,  tanpa dukungan ayat2 Firman Tuhan sama sekali. Contoh yang baik sekali adalah saat penganiayaan di Yerusalem,  siapa yang pergi memberitakan Injil? Adalah murid2 sedangkan para rasul tetap di Yerusalem, Saya percaya murid2 tersebut, harus belalajar dengan cepat, karena mereka harus meninggalkan para rasul, mereka harus mengambil alih peran para rasul, karena selain mereka harus lari dari kota Yerusalem,  mereka harus memberitakan Injil. Tidaklah mudah untuk meyakinkan orang-orang Yahudi tentang Yesus yang mati di kayu Salib itu adalah Tuhan, mereka selain menggunakan PL, juga. meyakinkan dengan pengajaran2 Yesus.

METANOIA

Markus 1:4, 15, 39 (TB) demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu." kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan setan.
Sungguh ironis sekarang orang orang cukup puas dengan menjadi pengikut Yesus atau Kristen, bahkan banyak hamba Tuhan memberikan percayalah pada Tuhan Yesus?  Apakah ini cukup? Tidak saudaraku Yesus tidak  berkata ikutlah aku. Tetapi lebih kepada bertobatlah. Antara Yohanes dan Yesus pesannya sama bertobatlah.  Artinya kita bisa berpura-pura menjadi pengikut Yesus tapi tanpa bertobat. Banyak orang bersaksi kalau ikut Yesus enak, semua diberkati. Itu semua Bagus tetapi apakah itu yang Tuhan minta,  bukan kita diminta untuk bertobat. Banyak orang berpikir kalau dia sudah aktif menjadi guru sekolah minggu atau ikut paduan suara bahkan berkotbah sekalipun belum tentu kita berobat. Kata bertobat berasal dari bahasa Yunani Metanoia yang artinya berbalik, kita berbalik dari pikiran pikiran lama atau berubah,  baik tingkah laku perbuatan dan pikiran.  Bukan berubah secara luarnya saja. Mudah bagi kita untuk berubah secara luarnya saja. Bertobat membutuhkan kerendah hatian dan keseriusan, tanpa kedua hal.tersebut sulit bagi kita untuk.bertobat sungguh sungguh, karena ini panggilan untuk semua orang tidak terkecuali hamba Tuhan, justru hamba Tuhanlah yang harus menunjukkan hal ini terlebih dahulu. Sulit memang,  tetapi itulah panggilan yang sebenarnya. Yang paling akurat mrnunjukan kita sudah bertobat atau belum adalah orang orang yang terdekar dengan kita, suami atau istri atau anak2 kita, ada baiknya kita pertanyakan pada mereka apakah kita sudah berubah, kalau jawabnya belum, ada baiknya kita segera berubah, karena Kerajaan Allah sudah dekat. Amin

Rabu, 25 Mei 2016

Kekristenan

Kata Kristen muncul untuk pertama sekali di buku Kis. 11:26  di kota Anthiokia, ditujukan bagi sekelompok murid Yesus. Pemberian nama tersebut diberikan oleh orang lain, untuk membedakan dengan kelompok lain. Yang pemimpinnya Yesus yang baru saja mati disalib. Mungkin itu untuk kata2 ejekan. Tetapi kumpulan orang-orang ini berbeda dari kelompok lain, mereka saling mengasihi satu dengan yang lainnya ini ditunjukan dengan pengorbanan. Karena status mereka yang berbeda. Bukan hanya status mereka yang berbeda tetapi juga dari golongan yang  berbeda beda pula, tetapi mereka bisa bersatu. Mereka mengajar tentang siapa Yesus yang sesungguhnya, walaupun resikonya mereka harus berhadapan dengan ahli alih Farisi yang tidak mau mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan, resikonya tidak main2 mereka bisa dimasukan ke dalam penjara karena dianggap bidad. Yaitu kelompok sesat dari ajaran Yahudi dan menghina Allah. Mereka yang mengajar itu adalah orang biasa yang tidak terpelajar berhadapan dengan ahli ahli Farisi yang berpendidikan tetapi yang membedakannya adalah mereka tahu tetapi tidak melakukan. Mereka mengajarkannya tetapi tidak menerapkan dalam hidupnya. Hanya hal hal kelihatan banyak orang mereka melakukannya tetapi sebenarnya hatinya jauh dari Tuhan.  Kekristenan awal tidaklah mudah musuh mereka saudara sendiri orang-orang Yahudi yang tidak percaya pada pemberitaan mereka dan orang-orang Romawi yang terusik dengan pemberitaan mereka,  mereka takut orang-orang Yahudi memberontak dan melawan mereka,  jadi sungguhlah tidak mudah menjadi pengikut Kristus mula mula, tanpa motivasi yang murni sukar bagi mereka mengikutinya, mereka harus yakin benar bahwa Yesus memang sungguh-sungguh Allah.

 

Selasa, 24 Mei 2016

Yesus tidak ingin pengikutNya mempunyai motivasi yang salah.

Matius 12:14-15, 22 (TB) Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. (12-15b) Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Kemudian dibawalah kepada Yesus seorang yang kerasukan setan. Orang itu buta dan bisu, lalu Yesus menyembuhkannya, sehingga si bisu itu berkata-kata dan melihat.
Yesus menghindar, bukankah Dia sanggup mengalahkan semua orang Farisi yang hendak membunuhNya. Sangat    menarik mengapa Yesus harus menghindar ?  Apasih tujuan Yesus dengan semua ini, bukankah orang orang Farisi lebih mudah dimenangkan jika  Yesus melakukan mujizat ? Menurut saya tidak, mengapa ? Karena bukankah mereka sudah melihat mujizat yang Yesus lakukan. Lagi hati mereka sudah tertutup dengan iri hati. Ini dengan orang yang irihati, mereka tidak dapat melihat lagi dengan benar apa yang sesungguhnya terjadi. Semua yang dilakukan Yesus salah dan salah, tidak ada yang baik. Apa motivasi kita mengikut Yesus, apakah karena berkatNya atau apa. Kita perlu jujur dengan hati kita. Dia tahu hati kita, tidak ada yang tersembunyi dihadapan Yesus. Mudah bagi kita mengikut Yesus dan berkata Dia sungguh baik, saat dimana berkat melimpah, kesehatan ok, anak2 obey bagaimana jika keadaan tidak seperti yang kita harapkan terjadi, masihkah kita mencintai Tuhan dan berkata Dia sungguh baik. 

Senin, 23 Mei 2016

Allah yang Independent

Yesaya 55:8 (TB) Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.
Allah tidak dapat di intervensi oleh siapapun,  Dia bebas berbuat apa saja,  tetapi segala perbuatanNya adalah untuk kebaikan kita. Sering sekali yang kita pikirkan itu tidak terjadi,  kita berpikir kalau hal ini terjadi tentunya lebih baik. Tetapi bukan yang kita pikirankan itu yang terjadi karena pikiran kita dengan pikiran Allah sungguhlah amat berbeda,  kita terbatas sementara Tuhan tidak.  Jadi rancangan siapa yang lebih baik rancangan kita atau rancangan Tuhan?  Sudah pasti rancangan Tuhan, beranikah kita berdoa biarlah rancanganMu saja yang terjadi. Bukankah itu yang Yesus ajarkan kepada kita,  biarlah kehendakMu yang terjadi.  Mungkin sakit bagi kita, tetapi itu demi kebaikan orang banyak dan Tuhan. Maukah kita ? Amin

Minggu, 22 Mei 2016

Sekali lagi hidup sebagai murid

Matius 10:23, 28 (TB) Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.
Sungguh amat menarik ayat ini, karena Yesus berkata jika kamu dianiaya dalam satu kota maka kamu harus lari ke kota yang lain, kalau Yesus sanggup melakukan mujizat tidakkah lebih baik, misalnya jika murid-murid dibacok pakai pedang mereka tidak mempan atau pedangnya menusuk ke penganiaya tersebut atau mujizat lainnya,  tentu Tuhan sanggup berbuat seperti itu bahkan lebih lagi. Bukankah dengan jalan demikian mereka2 yang menganiaya murid2 gampang menjadi pengikut Yesus.
Tentunya Dia sanggup, kog bukan itu yang Yesus tawarkan, justru menghindar, Dan di ayat 28 Dia berkata lebih takutlah kamu kepada yang sanggup membunuh jiwa dari pada yang sanggup membunuh tubuh dan itu memang terbukti banyak saudara saudara kita di abad yang pertama harus mati demi mempertahankan iman mereka. Mereka lebih baik mati demi Yesus daripada harus menyangkalnya. Bagaimana dengan kita sekarang,  bisnis aja agak mandek, kita salahkan Tuhan,  kita tidak mau melayani lagi atau ada yang tidak mau ke Gereja,  ironis bukan ? Yesus tidak mau pengikutNya salah motivasi,  mereka berharap jika jadi pemgikut Yesus segala galanya jadi lancar. Dibutuhkan komitmen dan rela berkorban nyawa sekalipun rela, itulah murid Yesus yang sejati. Itulah murid Yesus yang sesungguhnya,  bagaimana saat ini? Zamankan sudah berubah.  Zaman boleh berubah,  keadaan boleh berubah tetapi Yesus tetap sama duli, hari ini dan selama lamanya. Penginjilan adalah harga mati. Jika kita stop,  stop pula kita jadi murid Yesus, memang ada kalanya kita malas dan bergumul. Tapi lakukan lagi mungkin saat ini kita jatuh tetapi kita harus bangun kembali.  Semoga nama Tuhan semakin dimuliakan. Amin